Kamis, 13 Januari 2011


          
                  MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN
                        PERTANIAN: PERLUNYA IMPLEMENTASI “PRA”, PENDEKATAN
                                                 KULTURAL DAN STRUKTURAL

                                                                   SRI WAHYUNI
                                     Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

PENDAHULUAN
Pembangunan di Indonesia terus dilakukan melalui berbagai program, namun
keberhasilannya belum sepadan dengan investasi karena antara lain kurang memperhatikan
partisipasi masyarakat (Colletta dan Kayam, 1987). Dengan demikian diperlukan
pendekatan-pendekatan yang pelaksanaannya mengikutsertakan masyarakat. Partisipasi
masyarakat dalam pembangunan merupakan kebutuhan dasar seperti halnya kebutuhan
sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan transportasi ( Sumardi dan Evers, 1982).
FAO (1991) menegaskan bahwa partisipasi masyarakat adalah hak azasi, sehingga
masyarakat harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam melaksanakan pembangunan.
Kesempatan tersebut perlu diberikan karena tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan
taraf hidup masyarakat sesuai dengan yang mereka inginkan. Masyarakat sendiri yang akan
merasakan dan menilai apakah pembangunan tersebut berhasil atau tidak. Maka agar tujuan
pembangunan sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat dan pemerintah , diperlukan
persepsi yang sama antar individu yang terlibat dalam pembangunan. Persamaan persepsi
diperlukan mulai dari apa yang harus ditempuh, bagaimana implementasinya, monitoring dan
evaluasi. Akhirnya pendekatan partisipatif disadari mutlak diperlukan dalam mencapai
keberhasilan pembangunan.

Menyadari pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, telah terbit
berbagai buku pedoman untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Misalnya Direktorat Jenderal Pembangunan Pedesaan (1995) telah menerbitkan panduan
untuk fasilitator tingkat desa tentang Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa
(P3MD) . Sedangkan untuk Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara diterbitkan oleh
Studio Drya Media (1994). Khusus di bidang pertanian telah terbit buku panduan umum
(FAO,1990) dan buku panduan untuk pertanian di lahan kering hasil kerja sama dengan
International Institute of Rural Reconstruction ((FAO dan IIRI,1995) . Pedoman khusus
untuk pengembangan usahatani di lahan rawa telah disusun oleh Mundy dan Muchtar
(1996). Inti dari semua buku pedoman tersebut adalah bahwa dalam melaksanakan
pembangunan terlebih dahulu perlu diawali dengan penerapan metode Participatory Rural
Appraisal (PRA).

Pembangunan mempunyai arti yang luas, termasuk membuat kebijakan yang
umumnya diperlukan segera untuk menanggapi isu-isu aktual yang sedang berkembang. Agar
kebijakan yang diterapkan dapat diimplementasikan sesuai dengan isu yang ada, kebijakan
tersebut juga harus dibuat melalui partisipasi masyarakat. Untuk kepentingan tersebut,
Bechstedt (1998) telah menyusun tahapan dan prinsip-prinsip yang harus dilakukan oleh
peneliti dalam menerapkan metode PRA.
Dengan telah diterbitkannya berbagai buku pedoman tentang PRA dimana satu
dengan lainnya saling melengkapi , dirasakan perlu adanya satu metode PRA yang
utuh/lengkap. Tulisan ini mengemukakan metode PRA hasil ramuan dari metode yang telah
dikemukakan dan pengalaman penulis dalam menerapkan metode PRA. Uraian tulisan
meliputi empat hal yaitu: 1) kegiatan yang perlu dilaksanakan sebelum melakukan PRA ( Pra
- Implementasi PRA). 2) tahapan dan pinsip-prinsip metode PRA. 3) Peningkatkan partisipasi
masyarakat melalui pendekatan struktural dan 4) Peningkatkan partisipasi masyarakat melalui
pendekatan kultural. Informasi ini penting untuk menunjang keberhasilan pembangunan
sekaligus sebagai usaha terus mensosialisasikan metode PRA sebagai kebutuhan dalam
mewujudkan keberhasilan pembangunan.

         KEGIATAN SEBELUM MENGIMPLEMENTASIKAN PRA (PRA –PRA)

Partisipasi artinya mengambil bagian atau turut serta dalam suatu kegiatan (Hornby et
al., 1984). Partisipasi merupakan suatu proses maka diperlukan pendekatan pendahuluan
yaitu perkenalan dan sosialisasi kegiatan ( Wahyuni et al. 2000). Jadi untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat terdapat dua kegiatan yang perlu dilakukan sebelum
mengumplementasikan metode PRA yaitu perkenalan dan sosialisasi program.

1. Perkenalan
Dalam perkenalan ada dua tahapan yang perlu dilakukan. Pertama dari petugas
lapangan yang langsung berhubungan memperkenalkan diri kepada masyarakat. Substansi
yang perlu diperkenalkan adalah identitas petugas meliputi instansi tempat bekerja dan yang
bersifat pribadi dalam keluarga. Identitas hendaknya ditulis lengkap dan jelas sehingga
mudah dibaca oleh sasaran program. Status yang jelas ini akan sangat membuka hati
masyarakat untuk mempercayai siapa sebenarnya petugas yang hadir ditengah-tengan mereka.
Tahap kedua, petugas lapang secara aktif mengenal masyarakat/sasaran program.
Usahakan secepat mungkin menghafal nama, tempat tinggal dan statusnya mulai dari
keluarga, dalam kelompok, dalam desa dan status lainnya dalam kelembagaan desa jika ada.
Dengan mengenal dan mengingat nama mereka, petugas bisa menyapa dan menyebut nama
mereka sehingga tercipta suasana akrab.
Bekaitan dengan perkenalan ini, pengertian pepatah “tak kenal maka tak sayang”
sangat penting untuk dihayati dan diterapkan. Setelah masyarakat kenal dan sayang pada
petugas dan program yang ditawarkan, maka mereka akan bisa diajak bekerjasama
mewujutkan pembangunan. Proses perkenalan terasa agak menyita waktu, tetapi manfaatnya
terhadap keberhasilan proyek sangat besar. Salah satu contoh mengenal masyarakat melalui
pertemuan formal yang efisien adalah meminta mereka secara bergantian menyebutkan
nama lengkap dan panggilan, pekerjaan, status dalam keluarga, kelompok tani, desa dan
status lainnya. Jika jumlah kelompok sasaran tidak banyak, mereka secara bergantian
diminta menuliskan namanya di kertas karton manila yang ditempelkan di ruang pertemuan.
Jika pertemuan di dalam ruangan dimana semua yang hadir duduk menghadap meja adalah
dengan membagian lembaran kertas atau karton berukuran A4. Kertas dilipat empat dan
dibentuk segitiga selanjutnya salah satu sisi segi tiga ditulis nama masing-masing dan ditaruh
diatas meja. Cara ini sangat memudahkan petugas untuk memanggil dan mengingat nama
peserta/petani.

Banyak pendekatan humanis yang bisa dikembangkan petugas lapang untuk
mengajak masyarakat berpartisipasi. Pendekatan humanis ini sangat membantu, karena pada
dasarnya semua manusia ingin maju dan sejahtera. Pengalaman dari salah satu lokasi proyek
pengembangan lahan rawa , salah satu desa di Propinsi Jambi. Ketika itu masyarakatnya
dikenal sangat sulit diajak berpartisipasi. Dalam kesempatan tersebut kami melakukan
beberapa pendekatan yaitu di samping memperkenalkan diri juga diceriterakan betapa
banyak pengorbanan yang dicurahkan untuk sampai ke desa mereka. Tim dari Bogor harus
mempergunakan 7 macam kendaraan mulai dari mobil kijang, bis DAMRI bandara, pesawat
udara, mobil sewaan, perahu bermotor (speed boat), perahu dayung (kelotok) dan terakhir
ojeg. Penjelasan tersebut bertujuan untuk menyadarkan mereka bahwa untuk sampai ke
lokasi diperlukan banyak dana, waktu, tenaga dan pikiran yang diperlukan dan pengorbanan
yang tidak bisa dinilai dengan uang, terutama bagi petugas yang jauh dari keluarganya.
Disampaikan juga bahwa sebenarnya, mereka merupakan sebagian masyarakat yang harus
bersyukur karena terpilih sebagai salah satu desa yang mendapatkan bantuan pemerintah.
Penjelasan yang telah dikemukakan ternyata dapat menggugah kesadaran mereka, terbukti
mereka mengharapkan kedatangan kembali tim kami ke desa tersebut. Pada saat yang sama
mereka terbuka minatnya untuk berpartisipasi dengan menyampaikan rencana kerja yang
sudah mereka miliki. Saat-saat tersebut dimanfaatkan oleh petugas dengan kegiatan aksi
melaksanakan tanam serentak dan ternyata memberikan peningkatan produksi padi (Tamara
et al . , 2000).

2. Sosialisasi Program
Sosialisasi program sebelum implementasi proyek bukan merupakan hal baru dan
selalu dilakukan pada awal kegiatan . Dari pengalaman penulis, pembawa atau pelaku
program di desa umumnya mengatakan sudah melakukan sosialisasi. Disadari bahwa
mensosialisasikan program bukan suatu tugas yang mudah dan bisa dikerjakan dengan hanya
satu kali pertemuan. Sekalipun substansi yang harus disosialisasikan sudah dituliskan secara
rinci. Tetapi masih dijumpai petugas yang sengaja tidak melakukan sosialisasi walaupun
telah menerima juklak. Alasannya, mereka khawatir dan ragu-ragu jika jadwal implementadi
proyek yang sudah disosialisasikan tidak sesuai rencana, tertunda atau bahkan gagal. Petugas
memilih mensosialisasikan program ketika implementasi program sudah jelas, sehingga
proses sosialisasi tergesa-gesa dan sering kurang difahami petani.
Dijumpai kasus dimana program tidak berhasil karena program belum difahami oleh
sasaran, sehingga disarankan kegiatan sosialisasi dilakukan sebelum implementasi proyek
dan diulang-ulang selama implementasi pada waktu yang tepat. Sebagai contoh,
implementasi suatu proyek pinjaman modal sudah berjalan tiga tahun namun masih dijumpai
anggota kelompok tani yang tidak mau mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjian.
Salah satu penyebabnya adalah sosialisasi tentang apa jenis proyek yang dilaksanakan (hibah
atau kredit/pinjaman) belum difahami seluruh petani (Dewi dan Wahyuni, 2000). Kasus lain
di Kabupaten. Bulukumba ( Sulawesi Selatan), seorang peternak yang menerima kredit sapi
betina tidak bisa mengawinkan sapinya karena tidak mempunyai pejantan, padahal proyek
sudah memberikan sapi pejantan kepada peternak lain di dalam kelompok yang sama.
Dalam hal ini peternak sapi betina tidak tahu bahwa pejantan yang diberikan tersebut bisa ia
pinjam. Maka ia melewatkan begitu saja kesempatan mengawinkan ternaknya sampai
beberapa siklus, dan baru mengemukakan masalahnya ketika tim evaluator berkunjung.
Kenyataan ini nerupakan bukti bahwa sosialisasi tentang hubungan kerja antar petani dalam
kelompok belum difahami oleh sasaran (Wahyuni, 1999). Kesimpang siuran tentang
informasi yang diberikan petugas dalam mensosialisasikan dosis pupuk yang tepat juga
dilaporkan oleh Wariso (2000).

Dari fakta di atas dapat diambil pelajaran bahwa dalam mensosialisasikan suatu
proyek/program sebaiknya dibuat buku keragaan yang dijadikan pedoman bagi semua
petugas proyek di lapangan . Substansi dari buku pedoman sosialisasi program hendaknya
meliputi jenis program, tujuannya, mengapa dilakukan, kapan jangka waktu implementasinya,
dimana saja diimplementasikan, siapa saja yang berkaitan dengan program dan bagaimana
program dilaksanakan. Buku pedoman tersebut merupakan acuan untuk mengantisipasi
adanya ketidak jelasan program yang akan menyebabkan terhambatnya keberhasilan program.

      TAHAPAN DAN PRINSIP-PRINSIP DALAM MELAKSANAKAN METODE PRA
Lahirnya metode partisipasi masyarakat dalam pembangunan dikarenakan adanya
kritik bahwa masyarakat diperlakukan sebagai obyek, bukan subyek. Metode Participatory
Rural Appraisal (PRA) merupakan perkembangan dari metode-metode terdahulu, diantaranya
RRA (Rapid Rural Appraisal) oleh Chambers (1992).
Definisi yang tepat tentang PRA masih terus diperdebatkan, namun yang perlu
dipertegas adalah perbedaannya dengan RRA. Menurut Studio Drya Media (1994), RRA
adalah bentuk pengumpulan informasi/data oleh “orang luar” yang kemudian dibawa keluar
dan dianalisanya sendiri. Sebaliknya PRA merupakan kegiatan yang partisipatif. Walaupun
teknik yang dipergunakan bisa sama, tetapi “orang luar” hanya berperan sebagai pemandu,
perantara atau fasilitator. Masyarakat didorong untuk melakukan kegiatan menggali
informasi tentang permasalahan mereka, kemudian menganalisis dan menentukan cara
terbaik dalam mengatasi masalah.
Tabel-1 menyajikan data tentang perbedaan tahapan pelaksanaan PRA mengacu pada
Studio Drya Media (1994), FAO dan IIRR (1995) dan Bechstead (1998). Perbedaan tersebut
diramu sehingga diperoleh tahapan PRA yang lebih lengkap. Ada tiga tahapan dalam
melaksanakan PRA, dimana Studio Drya Media (1994) memberikan tahapan paling rinci,
dengan mengeksplisitkan tahap I. Selanjutnya tahap I tersebut dilengkapi oleh Wahyuni et
al. (2000) dengan perkenalan dan sosialisasi program. Tahap II merupakan inti PRA dan
secara eksplisit dikemukakan oleh semua penulis dengan kalimat yang berbeda. Rincian
kegiatan yang dikemukakan pada tahap II dalam Tabel-1 adalah rincian asli menurut
Bechstedt ( 1998) yang sengaja dikemukakan untuk kepentingan peneliti. Tahap III secara
eksplisit dikemukakan oleh ketiga penulis.
Tabel 1. Tahapan dalam Melaksanakan PRA
Tahapan Keluaran
Pertama
Menyampaikan maksud, tujuan dan proses PRA
1. Perkenalan
2. Sosialisasi program
Kedua
1. Mengumpulkan data sekunder
2. Karakterisasi sumber daya lahan
3. Mempelajari pengetahuan local
4. Membuat peta bersama
5. Membuat transek bersama
6. Mengumpulkan informasi secara histories
7. Membuat kalender musim
8. Karakterisasi penggunaan lahan
9. Mobilisasi tenaga kerja
10. Analisis keluarga
11. Membuat diagram ven
12. Memprioritaskan permasalahan
13. Membuat rencana kegiatan
14. Menganalisa potensi dan permasalahan kelembagaan
15. Membuat kebijakan
1. Deskripsi sistim analisis
2. Permasalahan penting
3. Data sumber daya lahan dan
kelembagaan
4. Kebutuhan masyarakat
5. Garis besar intervensi
6. Inovasi kebijakan
Ketiga
1. Refleksi inti PRA
2. Diskusi dan evaluasi hasil PRA
3. Memanfaatkan hasil PRA untuk program aksi
1. Realisasi kegiatan
Ada prinsip-prinsip yang harus diikuti dalam melaksanakan PRA yang merupakan ciri
khas dari pelaksanaan metode PRA. Studio Drya Media (1994) hanya mengemukakan 10
prinsip, FAO dan IIRR (1995) 14 prinsip sedangkan Beschstedt (1998) secara eksplisit
mengemukakan 20 prinsip (Tabel 2). Walaupun jumlah prinsip yang dikemukakan antar
penulis berbeda, namun inti dari prinsip-prinsip yang dimaksudkan sebenarnya sama. Tabel -
2 tidak menekankan pada urutan kegiatan, namun berdasarkan pengalaman penulis dalam
melaksanakan PRA, prindip santai, luwes, akrab dalam suasana kekeluargaan serta terbuka
merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada awal program.
Tabel-2. Prinsip-Prinsip dalam Melaksanakan PRA
No Prinsip-prinsip dalam Melaksanakan PRA
1 Tunjukkan interes belajar dengan masyarakat
2 Hargai pengetahuan masyarakat
3 Mintalah nasehat dari masyarakat
4 Biarkan masyarakat memilih ketua kelompoknya sendiri
5 Usahakan bertemu dengan masyarakat pada hari pertama kedatangan
6 Mengidentifikasi secara hati-hati dalam memilih informan kunci dan anggota
masyarakat untuk dijadikan koperator.
7 Menentukan strata berdasarkan umur, pendidikan, pengetahuan, jender,
keberhasilan.
8 Ikut sertakan wanita dan anak-anak..
9 Lakukan studi kasus rumahtangga untuk menemukan variasi informasi
10 Menemui masyarakat pada saat yang tepat
11 Tidak memaksakan jadwal
12 Jika mungkin tinggal bersama masyarakat.
13 Berhati-hatilah dalam menentukan prioritas permasalahan
14 Tim kecil dengan kombinasi profesi, umur, jender
15 Menukar strategi pengumpulan maupun sumber informasi secara reguler diantara
anggota tim.
16 Mengkombinasi hasil wawancara dengan observasi
17 Gunakan indikator kunci dalam memperbaiki observasi
18 Menindaklanjuti observasi pada indikator penting Disajikan indikator keberhasilan
program pada Tabel-3.
19 Kunjungan lapang 3 – 5 hari
20 Manfaatkan data sekunder semaksimal mungkin
Sumber,:Bechstedt (1998:41-42)

Khusus tentang kunjungan lapang, pada prinsip nomer 11 ditekankan agar tidak
memaksakan jadwal, namun pada nomer 19 dinyatakan bisa ditempuh selama tiga sampai
lima hari. Menurut pengalaman dan informasi dari beberapa peneliti, jangka waktu tersebut
sering tidak bisa dicapai karena di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah terpencil masih
dijumpai desa yang belum mempunyai data monografi desa. Monografi desa merupakan
informasi penting dari penerapan metode PRA maka diperlukan waktu khusus untuk
memperoleh informasi tersebut. Suatu pengalaman unik diperoleh di Jawa Barat, ketika kami
meminjam data monografi , sekretaris desa mengatakan bahwa monografi masih dipinjam
oleh seseorang . Hari berikutnya kami menanyakan lagi namun memperoleh jawaban yang
sama. Karena kami sangat membutuhkan data tersebut kami terus bertanya siapa dan dimana
peminjamnya tetapi sekretaris desa tidak mau memberikan keterangan dan mengatakan biar
ia sendiri yang akan memintanya. Namun hari berikutnya justru sekretaris desa tidak mau
menemui kami dan akhirnya diketahui bahwa desa tersebut sebetulnya belum mempunyai
data monografi. Kasus ini menunjukkan bahwa kami kurang peka dalam menanggapi sikap
masyarakat yang masih mempunyai budaya malu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT MELALUI
PENDEKATAN STRUKTURAL
Di dalam suatu masyarakat, dari yang paling kecil seperti rumahtangga ada tatanan
atau struktur tertentu untuk mengatur keberlanjutan masyarakat tersebut. Soekanto (1983)
memberikan contoh yang paling sederhana tentang teori struktural-fungsional yaitu struktur
tubuh manusia yang terdiri dari kepala, leher, badan dan anggota badan. Masing-masing
struktur mempunyai tugas sendiri-sendiri namun tetap diperlukan kerjasama karena struktur
yang satu dan lainnya saling tergantung agar bisa menjalankan tugas secara sempurna.
Di dalam pembangunan pertanian juga ada suatu struktur kelembagaan, yaitu: 1)
petani/kelompok tani yang bertugas memproduksi, 2) toko sarana produksi, bank dll yang
menyediakan sarana produksi, 3) Badan Penelitian dan Pengembangan yang menghasilkan
teknologi, 4) Lembaga penyuluhan dan 5) lembaga yang membuat kebijakan (Hermanto,
2001). Agar tujuan pembangunan pertanian terwujud, walaupun masing-masing lembaga
mmpunyai tugas masing-masing tetapi kelembagaan tersebut harus bekerja sama. Namun
sering dijumpai petani tidak mempunyai kesempatan untuk memperoleh pelayanan dari
kelembagaan terkait sesuai dengan yang diperlukan. Maka petugas pembangunan diharapkan
membantu menjembatani petani memperoleh pelayanan dari lembaga yang diperlukan sesuai
dengan fungsinya. Menganalogkan teori struktural fungsional dengan usaha pelaku
pembangunan dalam membantu petani memperoleh akses pelayanan dari lembaga terkait,
dalam tulisan ini dinamakan pendekatan struktural.

Pendekatan struktural paling penting dalam meningkatkan pembangunan pertanian
adalah mengikutsertakan kelembagaan desa dalam pelaksanaan program. Dikatakan penting
karena peluang ketidak berhasilan program sangat besar tanpa mengikutsertakan pemimpin
formal maupun non-formal di tingkat desa.
Sebagai contoh, suatu kelompok tani menghadapi masalah serangan hama babi hutan
yang bersumber di lahan kas desa yang bongkor (lahan tidak digarap). Cara
penanggulangannya, lahan tersebut harus dibersihkan. Karena lahan tersebut milik aparat
desa, maka untuk membersihkan harus meminta izin kepada aparatnya. Pada waktu
meminta izin tersebut baru disadari bahwa setelah proyek diimplementasikan sekitar tiga
tahun baru disadari bahwa proyek belum mengikut sertakan aparat desa. Mulai dari
peristiwa tersebut, selanjutnya dijalin hubungan kerja dengan aparat desa yang terbukti dapat
berperan sebagai penggerak dalam adopsi teknologi yang dianjurkan (Wiryawan et al., 2000).
Contoh lain adalah satu kelompok tani yang dinamikanya sangat rendah dan PPL (Petugas
Pertanian Lapangan) dengan memakai nama samaran tega memanfaatkan hak anggotanya
untuk memperoleh pinjaman dana bergulir. Setelah ditelusuri, ternyata hubungan kelompok
tani dengan PPL dan kepala desa tidak ada. Aparat desa tidak tahu menahu dengan program
yang sedang berlangsung di desanya. Menurut ketua kelompok tani, usaha mengundang
kepala desa untuk hadir dalam pertemuan kelompok yang dilakukan tiap bulan tidak berhasil.
Usaha tani padi di lahan rawa sangat memerlukan kelembagaan irigasi yang cermat,
memerlukan menejemen pengairan khusus yang disesuaikan dengan kandungan pirit di lahan
sehingga kerjasama dengan kelembagaan pengairan sangat diperlukan. Namun petani lahan
rawa umumnya berada di lokasi terpencil dan sarana komunikasi terbatas, sehingga sulit
mencapai kelembagaan yang diperlukan. Dalam kasus seperti ini sangat diperlukan bantuan
dari petugas lapang untuk membantu menjalin hubungan dengan lembaga Pekerjaan Umum
(PU). Contohnya petani di desa Harapan Jaya, Kecamatan Indragiri Hilir (Propinsi Riau),
lahan usahataninya teroksidasi karena fihak PU membuat saluran tersier terlalu dalam
sehingga permukaan air di saluran tersier lebih rendah dari permukaan air lahan sawah.
Kondisi ini menyebabkan lahan sawah tidak tergenangi air sehingga teroksidasi dan tidak bisa diusahakan untuk usaha tani. Untuk mengatasi masalah tersebut petugas ISDP (Integrated
Swamps Development Project) Riau telah menyampaikan masalah yang dihadapi petani
kepada fihak PU. Usaha tersebut ternyata mendapat tanggapan terbukti adanya perbaikanperbaikan
bendungan yang telah dilakukan (Herawati et al. 2000).
Pentingnya dukungan secara struktural untuk meningkatkan produksi padi, khususnya
di musim “gadu” atau kemarau, sangat dirasakan oleh petani di Tanjung Jabung (Jambi).
Namun mereka belum mampu menjalin hubungan dengan kelembagaan yang diinginkan.
Dengan bantuan Mantri Tani setempat selanjutnya dilakukan pertemuan kelompok tani dan
kelembagaan terkait . Kelembagaan terkait terdiri dari staf BPSB (Balai Pengawasan dan
Sertifikasi Benih), aparat desa, tim teknis dan konsultan ISDP. Dalam pertemuan tersebut
petani mengutarakan masalahnya dan ternyata mendapat respon dari kelembagaan terkait
yang diikuti dengan program aksi . Fihak BPSB mengawasi penanaman padi sejak tanam,
dalam penyeleksian sampai sertivikasi sehingga diperoleh produksi yang baik dan harga
tinggi (Wiryawan et al. , 2000).
Contoh pendekatan struktural lainnya dilakukan oleh Dewi dan Wahyuni (2000) yaitu
dalam menjalin kerjasama antara anggota Kelompok Tani Karya Indah di desa Awal Terusan
(Kecamatan Sirah, Pulau Padang – OKI – Sumatera Selatan) dengan koperasi IPPTP Kayu
Agung. Kerjasama tersebut dilakukan karena adanya laporan bahwa petani tidak bisa
menerapkan dosis pemupukan sesuai dengan anjuran karena harga pupuk mahal dan lokasi
kios saprodi sulit dijangkau. Toko saprodi terdekat berjarak 30 km dan harus ditempuh
dengan tiga kali ganti kendaraan yang frekwensi keberadaannyapun sangat jarang. Setelah
terjalin kerjasama, maka koperasi menyediakan pupuk di lokasi sesuai dengan permintaan dan
petani membayar dalam jangka waktu yang disepakati. Dilaporkan semua petani membayar
biaya pupuk tepat waktu sesuai perjanjian dan produksi meningkat dari 2 – 2,5 menjadi 3 –
3,5 ton/ha. Pada musim selanjutnya adopsi teknologi pemupukan meningkat dari 60%
menjadi 99%.
Kelompok Tani di Desa Parit Keladi ( Kalimantan Barat) menghasilkan padi dan
sayur mayur yang bagus tetapi sulit mengirimkan kepada pelanggan karena jalan desa rusak.
Namun berkat usaha petugas lapang ISDP dan PPL, pembeli yang sudah merupakan
pelanggan bisa memahami keadaan dan bersedia memberikan bantuan batu kali sebanyak
tiga truk untuk memperbaiki jalan yang rusak ( Wahyuni dan Sukarja, 2000).
Dari kasus-kasus yang dikemukakan di atas diperoleh tiga hal penting. Pertama petani
sangat memerlukan bantuan dalam menjangkau kelembagaan untuk melancarkan
usahataninya namun mereka belum mampu. Kedua, pendekatan struktural sangat diperlukan
dalam meningkatan pembangunan pertanian. Ketiga pendekatan struktural yang diperlukan
di suatu program ditentukan oleh kebutuhan wilayah masing-masing.





MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT MELALUI
PENDEKATAN KULTURAL
Kultur atau kebudayaan adalah perilaku berpola yang ada dalam kelompok tertentu
yang anggotanya memiliki makna, simbul dan cara yang sama untuk mengkomunikasikan
makna tersebut (Colletta dan Kayam, 1987). Unsur-unsur kebudayaan tersebut meliputi
pranata atau aturan tersurat maupun tersirat dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan
agama. Kebudayaan umumnya terbentuk dalam waktu yang lama dan terinternalisasi dalam
kehidupan sehari-hari dan tercermin dalam perilaku (termasuk dalam kegiatan usahatani)
suatu individu atau masyarakat. Dengan demikian setiap usaha memperkenalkan suatu
teknologi baru kepada petani harus mempertimbangkan kebudayaan yang berlaku dan dianut
mereka sehingga diketahui strategi (timing atau momennya, cara pendekatan , jenis
pengetahuan yang diperkenalkan dll.) yang tepat dalam memperkenalkannya. Berikut ini
dikemukakan beberapa kasus sebagai contoh kepedulian dan ketidak pedulian pelaku
pembangunan pertanian dalam memanfaatkan kebudayaan masyarakat untuk membangun
pertanian.
Dalam usaha meningkatkan produksi ternak kambing dan domba telah dihasilkan
serangkaian teknologi (aspek pemulia biakan, nutrisi, tata laksana, kesehatan dan ekonomi)
yang selanjutnya dikemas dalam satu buku “Kumpulan Peragaan Berternak Kambing Domba
di Pedesaan” (Ludgate, 1989) yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda .
Teknologi tersebut telah diterapkan di beberapa desa di Jawa Barat. Setelah setahun proyek
berakhir dan dilakukan evaluasi (Wahyuni et al. , 1994) diperoleh informasi bahwa
beberapa teknologi yang tidak diterapkan oleh peternak disebabkan peternak mempunyai cara
tersendiri berdasarkan pengalaman mereka dan memberikan hasil lebih baik.
Sebagai contoh peternak dianjurkan menyediakan garam di dalam bambu dan
memberikan air minum di dalam ember, tetapi masyarakat tidak menerapkannnya karena jika
garam disediakan terus menerus dan ternak memakannya setiap saat maka nafsu makan akan
meningkat dan ternak akan menjadi kegemukan dan akhirnya mandul. Sedangkan air yang
ditaruh di dalam ember akan ditendang oleh ternak dan tumpah sehingga sulit diketahui
apakah ternak sudah minum atau belum. Cara petani memberikan garam pada ternak adalah
mencampur garam dengan air lalu memercikkannya pada rumput yang disediakan untuk
ternak . Sedangkan air minum yang diberikan adalah air cucian beras (leri) yang ditaruh pada
baskom atau sejenisnya dan diberikan langsung pada ternak sampai habis. Contoh lain
adalah anjuran tata laksana pengandangan ternak, agar antara ternak yang berbeda umur(
pejantan, anak lepas sapih, dara dan induk sedang bunting) diberi sekat. Petani tidak mau
menerapkan anjuran untuk anak-anak kambing-domba yang masih menyusui dan induk yang
sedang bunting. Alasan mereka anak kambing sering terperosok dan jika itu terjadi dimalam
hari berarti dan tidak diketahui akan menyebabkan kematian. Demikian juga untuk induk
bunting yang sudah dekat saat melahirkan , peternak memilih menurunkannya di halaman
rumah pada siang hari dan membawanya ke dapur pada malam hari sehingga kalau sampai
mereka tidak mengawasipun ternak masih mungkin bisa melahirkan dengan selamat. Belajar
dari kenyataan tersebut, BALITNAK membuka diri untuk belajar dari peternak dengan
mengadakan penelitian tentang indigenous knowledge peternak dalam aspek pakan,
pemuliabiakan/reproduksi dan pemeliharaan kesehatan (Wahyuni , 1994 ) Khusus tentang
tanaman obat dilaporkan ada 49 jenis yang 6 diantaranya paling banyak digunakan untuk
mengobati ternak sakit dan menjaga kesehatan ternak. Selanjutnya salah satu jenis tanaman
yaitu buah buni diteliti keefektifannya sebagai obat cacing di Balai Penelitian Veteriner
(Murdiati et al. 1992) yang kemudian diuji kembali di lapangan bersama peternak. Menurut
Adnyana dan Edi Basuno (2001) kegiatan semacam ini dinamakan improvisasi indigenous
knowledge secara partisipatif dan akan menjamin sustainabilitas penerapan teknologi tersebut.
Pemanfaatkan adat istiadat dalam pengembangan ternak dilakukan di desa Genjahan
(kecamatan pojong, Gunung Kidul) ,Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang dinamakan
“Gumbregan” (Wahyuni et al., 1993). Upacara gumbregan dilakukan setahun sekali untuk
memperingati Nabi Sulaiman, satu-satunya nabi yang menguasai bahasa hewan, sedangkan
makna gumbreg (bahasa jawa) adalah “mohon keselamatan” maka dengan mengadakan
upacara gumbregan peternak memohon keselamatan atas ternak yang dipelihara. Pada saat
upacara tersebut kandang ternak dibersihkan, ternak dimandikan dan dihiasi serta sebagian
dilombakan yang disaksikan oleh kelembagaan terkait dan saat itu kebetulan Bupati juga
hadir. Saat tersebut merupakan gabungan antara pendekatan kultural dan struktural yang
sangat tepat. Bukti dari efetifnya pendekatan tersebut adalah Kecamatan Pojong berhasil
sebagai kecamatan pertama di DIY yang berhasil mengentaskan kemiskinan. dengan
kemampuan sendiri.
Dalam mengentaskin kemiskinan di Kawasan Timur Indonesia, pemerintah
memberikan proyek integrasi ternak dalam usahatani. Pada tahun pertama hanya 30 petani
dari 439 rumahtangga miskin yang akan memperoleh ternak. Rumahtangga lainnya akan
mendapatkan ternak dari hasil perguliran ternak yang telah diterima keluarga pada tahap
pertama. Pemilihan tersebut ditentukan oleh masyarakat dengan fasilitator petugas lapang
dan aparat desa. Dengan cara demikian ternyata petani calon penerima guliran berikutnya.
sangat membantu dalam memonitor perkembangan ternak dan berperan sebagai kontrol sosial
            Dengan pendekatan partisipatif , desa tersebut merupakan salah satu desa yang
perkembangan ternaknya bagus (Wahyuni, 2001).
Pendekatan kultural dan cultural yang sangat kental dalam pembangunan pertanian
dijumpai di Bali (Adiyoga dan Wahyuni, 2000). Dalam setiap tahapan kegiatan usahatani
didahului oleh upacara adat yang isinya memohon kepada Tuhan agar usahanya dapat
berjalan lancar dan memberikan hasil bagus. Dilakukannya permohonan diawal kegiatan
mencerminkan bahwa secara teknis mereka sudah siap untuk melakukan kegiatan dan akan
melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Upacara tersebut dilakukan secara sendirisendiri
maupun bersama-sama dengan petani sehamparan tata air yang dikenal dengan subak.
Dalam berdoa secara bersama-sama tersebut partisipasi dari seluruh petani tercermin, secara
moral mereka bertanggung jawab bersama-sama dalam keberhasilan berusaha tani. Kegiatan
kultural yang dilakukan secara bersama-sama di Pura adalah upacara menjelang suatu musim
tanam yang dinamakan Pengwiwit., Upacara menjelang panen disebut Mesaba dan menjelang
nyepi di mana seluruh areal sawah dikelilingi dengan arak-arakan Barong Rande . Sedangkan
upacara yang dilakukan secara individu di Sanggah (pura kecil di masing-masing keluarga)
adalah sebelum mengolah lahan , sebelum tanam (sane munggah) , satu bulan setelah tanam.
Walaupun dilakukan secara individu, hari upacara ditetapkan secara bersama oleh seorang
pemimpin adat (pekaseh) di mana dalam rapat penentuan hari tersebut sekaligus dilakukan
diskusi berkaitan dengan masalah dan segala sesuatu demi kelancaran dan keberhasilan
kegiatan usahatani. Yang terpenting setelah upacara bulan pertama ini adalah keesokan
harinya petani tidak boleh menengok lahannya selama sehari penuh dan membiarkan
hamparan sawah sunyi-senyap untuk memberikan kesempatan kepada alam tidak terganggu
oleh ulah manusia.
Di samping memperhatikan aspek kultural, aspek sumberdaya yang dimiliki oleh
keluarga tani juga perlu dipertimbangkan dalam penerapan teknologi baru Sebagai contoh
pengenalan penggunaan benih unggul di desa Parit(Kapuas, Keladi Kalimantan Barat) .
Petani yang penguasaan lahannya rata-rata sekitar 2 ha (petani transmigran) tidak mau
menerapkan penggunaan bibit unggul di seluruh lahan miliknya. Hal ini karena mereka tidak
mereka tidak mempunyai cukup tenaga kerja. Untuk mempersiapkan lahan mereka harus
mengupah atau menyewa traktor yang biayanya sangat mahal. Disamping itu waktu tanam
yang terbatas memaksa mereka harus mengeluarkan upah tanam, demikian juga waktu panen
harus diborongkan karena waktu panen yang harus serempak dan jangka waktunya pendek.
Dengan pertimbangan tersebut petani memakai benih campuran yaitu sebagian lahan ditanami
dengan benih unggul dan sebagian lagi dengan benih lokal yang persentasenya disesuaikan
dengan ketersediaan tenaga kerja dan modal yang dimiliki (Wahyuni, 1997).
Dari contoh-contoh yang telah dikemukakan membuktikan bahwa pendekatan kultural
dapat meningkatkan pembangunan pertanian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Sebelum mengimplementasikan metode PRA diperlukan tahapan perkenalan dan
sosialisasi program. Dalam perkenalan sebaiknya dilakukan pendekatan humanis sedangkan
dalam sosialisasi proyek/program sebaiknya dibuat buku keragaan sebagai pedoman bagi
semua petugas proyek di lapangan . Sosialisasi perlu dilakukan baik sebelum maupun
selama implementasi program. Substansi dari buku pedoman sosialisasi program hendaknya
meliputi jenis dan tujuan program,, mengapa dilakukan, kapan jangka waktu
implementasinya, dimana saja diimplementasikan, siapa saja yang berkaitan dengan program
dan bagaimana program dilaksanakan.
Ada tiga tahapan dan 20 prinsip yang harus dilaksanakan dalam menerapkan metode
PRA. Walaupun tidak ada urutan dalam menerapkan prinsp tersebut namun dalam awal
kegiatan sangat diperlukan perkenalan dalam suasana santai, lues dan akrab.
Petani sangat memerlukan bantuan dalam menjangkau kelembagaan untuk
melancarkan usahataninya , maka petugas pelaksana program pembangunan hendaknya
membantu mereka melalui pendekatan struktural . Perlu diperhatikan bahwa pendekatan
struktural yang diperlukan di suatu program ditentukan oleh kebutuhan wilayah masingmasing.

Saran
Dalam meningkatkan pembangunan pertanian mutlak diperlukan implementasi metode
PRA. Untuk menyamakan persepsi dan mensosialisasikan program diperlukan buku panduan.
Substansi dari buku pedoman sosialisasi program hendaknya meliputi apa jenis program,
tujuannya, mengapa dilakukan, kapan jangka waktu implementasinya, dimana saja
diimplementasikan, siapa saja yang berkaitan dengan program dan bagaimana program
dilaksanakan.
Tahapan dan prinsip-prinsip metode PRA perlu diimplementasikan sesuai dengan
ketentuan dan kebutuhan wilayah masing-masing.
Petugas pelaksana pembangunan hendaknya menguasai stuktur dan kultur wilayah
yang akan dibangun.











DAFTAR PUSTAKA
Adiyoga, W. dan Sri Wahyuni. 2000. Studi Diagnosis Lokasi Pengkajian Corporate
Farming di Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan-Bali. Laporan
intern. PSE-BADAN LITBANG-DEPTAN. Pp35.
Adnyana, M. Oka dan Edi Basuno. 2001. Improvisasi Indigenous Technology dalam
Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Berkelanjutan. Pros. Sem. Nas. Penelitian dan
Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa. Buku-I. PUSLITBANGTAN – BOGOR
Cipayung, 25 – 27 Juli. P153-166.
Bechstedt, Hans Dieter. 1998. MSEC Training Workshop on Project Management and
Approaches for Catchment Research. Phrae. Thailand. 57pp.
Cambers, R. 1992. Rural Appraisal: Rapid. Relaxed and Participatory. Institute of
Development Studies. England.20 Pp,
Colletta, Nat J dan Umar Kayam. 1987. Kebudayaan dan Pembangunan. Yayasan Obor
Indonesia. Pp.333.
Dewi, R dan Sri Wahyuni. 2000. Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dalam Difusi dan
Adopsi Teknologi SUT Lebak. ISDP- Puslitbangtan. Bogor. Pp18.
Direktorat Jenderal Pengembangan Desa. 1995. Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Desa. Buku A. Departemen Dalam Negeri. Pp.80.
FAO. 1990. Taking Hold of Rural Life. RAPA Bangkok – Thailand. 127pp.
FAO. 1991. Participatory Monitoring and Evalution. RAPA Bangkok – Thailand. 51pp.
FAO dan IIRR. 1995. Resource Management for Upland Areas in Southeast Asia. Farm
Field Document.2. FAO – Bangkok – Thailand and IIRR, Silang – Cavite.
Phillipines. 207 Pp.
Herawati, T., Suwalan, S., Haryono dan Sri Wahyuni. 2000. Peranan Wanita Tani
Dalam Usahatani Keluarga di Lahan Rawa Pasang Surut. Pengembangan Pertanian
Lahan Rawa Berkelanjutan. Pros. Sem. Nas. Penelitian dan Pengembangan Pertanian
di Lahan Rawa. Buku-I. PUSLITBANGTAN –BOGOR Cipayung, 25 – 27 Juli. p.
247 – 258.
Hermanto. 2001. Perkembangan Kelembagaan Pertanian. Dalam Bunga Rampai Ekonomi
Beras. Suryana dan Mardianto (Eds). Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan
Masyarakat dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Hal 1- 13.
Hornby. Parnwell. Siswojo dan Siswojo. 1984. Kamus Inggris Indonesia. Oxford
University Press. P.419.
Ludgate. Patrick. J. (ed) 1989. Kumpulan Peragaan dalam Rangka Penelitian Ternak
Kambing dan Domba di Pedesaan. BALITNAK – SR CRSP. Pp.55.
PUSLITBANGNAK, BADAN LITBANG – DEPTAN.
Mundy, P dan Muchtar Rusdi. 1996. Pendekatan Partisipatif dan Transformasi Sosial Dalam
Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Rawa. Indeco duta utama - Cakra Hasta –
EUROCONSULT. Pp. 7.
Murdiati, T.B., Sri Wahyuni ., Roemantio, H.S dan E. M. Mundy. 1992. Tumbuhan dalam
pengobatan Etnoveteriner pada Ternak Ruminansia di Jawa Barat. Pros. Sem. Dan
Lokakarya Nasional. Etnobotani. Dep. PDK dan LIPI. Cisarua, Bogor, 19 – 20
Pebruari. P 67 – 71.
Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. CV Rajawali
Jakarta. Pp 303.
Studio Drya Media. 1994. Berbuat Bersama Berperan Setara. Bahan Konsorsium
Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara. Pp.164.
Sumardi, Mulyanto dan Hans Dieter Evers. 1982. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. CV.
Rajawali dan YIIS. Jakarta. 341pp.
Tamara, Erna., Sri Wahyuni., Suwalan, Jumakir dan Uka Kusnadi. 2000. Pemberdayaan
Kelompok Tani di Lambur-II. Jambi. Pros. Sem. Nas. Penelitian Pengembangan
Pertanian Lahan Rwa, Cipayung 25 – 27 Juli. PUSLITBANGTAN – BOGOR. P. 145
– 154.
Wariso. RAM. 2000. Faktor Penghambat Pengembangan Pertanian dan Pendekatan osbud.
Cakra Hasta Konsultan dan AHT Internasional GmBH. 16pp.
Wahyuni , Sri. 1992 Reevaluation of Outreach Pilot Project. BALITNAK- SR CRSP,
PUSLITBANGNAK, Bogor. P 1-30.
Wahyuni , Sri. Ruth M. Gatenby and M. F. Nolan. 1994. Farmers Indigenous Knowledge
in Small Ruminant Production System. Sustainable Animal Production and the
Environment. Procc. Of the 7th. AAAP Animal Science Conggress. Bali, Juli 11 – 16.
Ikatan Sarjana Ilmu-ilmu Peternakan Indonesia. P.145 – 146.
Wahyuni , Sri., Sri Rahmawati dan A. Suparyanto. 1993. Kelumintuan Usahatani Ternak di
Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam Kumpulan Makalah Peranan Wanita dalam
Sistem Usahatani Ternak di Jawa dan Bali. PUSLITBANGNAK – Proyek
Pengembangan Penelitian Pertanian Nasional. P 104 – 140. Bogor
Wahyuni, Sri. 1997. Laporan Penelitian Pemberdayaan Kerjasama Kelompok Tani di
FSTA. Parit Keladi. Pontianak. Kalimantan – Barat. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian- ISDP. Bogor. Pp. 1-33.
Wahyuni , Sri dan M. Sukarja. 2000. Kelembagaan Penunjang Acquisition System Teknologi
Sistem Usahatani Pasang Surut. Pros. Sem. Nas. Penelitian Pengembangan Pertanian
Lahan Rawa, Cipayung 25 – 27 Juli. PUSLITBANGTAN – BOGOR. P 392 – 402.
Wahyuni, Sri. 1999. The Impact of PUTKATI on Farmers’s Welfare. Direktorat Jenderal
Peternakan – Anzdec. Laporan intern. Pp.32.
Wahyuni, Sri., Sianturi A. dan T. Herawati. 200. Peranan Sosialisasi dalam Pembangunan
Pertanian Lahan Rawa. Pros. Seminar Pengembangan Lahan Rawa. Riau. P.247 –
258.
Wahyuni, Sri. 2001. Pendekatan Sosiobudaya dalam Pengembangan Peternakan di
Sulawesi. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. Edisi khusus. Seminar Nasional
Komunikasi Hasil Penelitian / Pengkajian. FAPET – UNDIP dan BPTP-Ungaran.
Semarang, 11 Oktober. P. 299 – 308.
Wiryawan. I. G., Herman S., Sri Wahyuni, Erna Tamara dan Suwalan. 2000. Rekayasa
Kelembagaan dan Pengembangan Modal Kelompok Mendukung Pengembangan
Teknologi Usahatani Pasang Surut. Seminar “ Memacu Pembangunan Pertanian
Lahan Pasang Surut Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna Serta Peningkatan
Koordinasi dan Keterpaduan Kerja”. Kuala Tungkal. Jambi. 27 – 28 Maret 2000.
P.220 – 231.

Rabu, 12 Januari 2011

cara seorang Orang Tua membahagiakan si buah hati nya.

Ini Judul sangat sesuai dengan Pengalaman Penulis sebagai anak.
Karena aku ingin suatu saat nanti aku bisa membaca dan merenungkan segala Perbuatan Baik Orang Tua ku.
Perjuangan Yang tidak kenal henti di tunjukkan oleh Ayah ku dan Ibu ku.
Ayah ku adalah seorang PNS bergolongan Rendah di Dinas Perkebunan dan Kehutanan di suatu Kabupaten Sumatera Utara,,Sedangkan Ibu ku adalah Pensiunan dari BUMN bagian Pupuk dan memiliki golongan rendah juga.Tetapi Bahasan ini tidak mencakupi Pekerjaan orang Tua ku itu,,tetapi bagaimana mereka menghargai seorang Anak dan Memberikan Banyak Jalan agar Saya menjadi Maju,,


Sedikit Cerita Bahwa saya adalah Anak Kedua dari tiga bersaudara.
Tetapi kakak saya sudah menghadap Tuhan YME dan sudah Bergelar ALM.
Jadi saya Dinobatkan sebagai anak Pertama dari Dua Bersaudara.
Adik saya Masih SMA di SMA saya dahulu,,
Yang Nota bene adalah Sekolah Orang Elit dan Anak Pejabat.
Tetapi Orang Tua memberikan Fasilitas itu kepada Kami dengan Alasan Kami ( Orang Tua ku , red ) berharap kalian bisa sejajar dan satu bangku dengan Anak Pejabat,dan memiliki Kemampuan Intelektual yang Sama dengan Mereka.
Benar saja semua bermula dengan Perkataan itu saya sebagai KELINCI PERCOBAAN Orang Tua saya berhasil dan Lulus dari SMA itu dan mampu menjebloskan saya di salah satu PTN yang pamor dengan Nama Besar nya. Belum tahu apakah adik saya mampu sejajar dengan saya atau malah Terbang Lebih Jauh dari saya.. Ok sampai disitu dulu cerita adik saya ,,,saya ingin bercerita yang lainnya
Karena saya Berasal dari Keluarga Batak asli,,dulunya saya tidak diizinkan untuk mengecap pendidikan Di Luar kota Medan,,Banyak alibi dari Orang Tua mulai dari saya lelaki yang harus membawa Marga Batak sampai dibayang-bayangin dengan sosok wanita. Tetapi semua bisa di negoisasi kan,,proses negoisasi berjalan alot dan orang tua saya mengizinkan saya Terbang dan Bertempat tinggal di Luar Medan. Tetapi dengan Berbagai nasehat tentunya..ada beberapa nasihat yang masih terpatri di dalam hati ku seperti :
" Cari dahulu Kerajaan Sorga dan Kebenaran Nya maka semua nya itu akan diberikan kepada Mu "
" Perkuat Iman Percaya Mu kepada Tuhan Karena DIA,, kamu mampu LULUS disana,,dan karena kasih nya lah kamu dapat dipercayakan duduk di Bangku PTN "
 " Dan selalu Orang Tua ku berkata apabila menelpon saya,,,Kamu Harus Perjuangkan Marga Kita dalam artian saya Harus Menikah dengan Boru ( Gadis) Batak "
Semua Nasihat itu masih ada dan masih Hidup di dalam sanubari ini,,

Perjuangan Lain Orang Tua ku Yang terasa berat sekali bagi ku adalah
Ketika ku Harus 1 x Pulang / Semester. Inilah Perjuangan Orang Tua ku.
Mereka Harus mencari kan Ku Uang Yang cukup agar Mampu Melihat sosok anak nya,,
karena bagimu itu tidak penting tetapi selalu saja Oramg Tua " Uang Bisa dicari ,nak..Sedangkan kau satu-satunya Pembawa Marga dan Penghibur Hati kami ( Orang Tua ) " tidak dengan tanpa alasan orang tua berkata seperti itu mereka mendapatkan pengalaman dari Kakak Nya di saat Anak Kakak nya Harus terbang ke Negeri Sakura dan Belum pulang karena alasan Bekerja sampai sekarang.,,sehingga Kakak dari Orang Tua ku itu mengalamai Stroke,,dan saya menyadari hal itu ketika mereka menceritakan kepada ku. dan Orang Tua ku berharap Supaya Hal itu tidak akan pernah terjadi di keluarga kami.


Inilah Perjuangan Orang Tua Ku pribadi,
Semoga suatu Saat nanti aku bisa membahagiakan mereka dengan sandangan Titel dan Kalungan wisuda dengan Predikat CumLaude terlebih mampu Bekerja di Kampung Halaman untuk mengabdikan Ilmu ku disana.

Sabtu, 08 Januari 2011

Wisata Tanah Karo

berastagi.jpgTanah Karo adalah sebuah kabupaten yang terletak di Propinsi Sumatera Utara yang dipimpin oleh seorang bupati yang berkedudukan di ibukota kabupaten yaitu Kabanjahe dengan jarak sekitar 78 km dari
Medan

Berikut ini adalah jalur lintasan menuju Tanah Karo dari
kota
Medan.
SEMBAHE

Sembahe merupakan salah satu lintasan  jalan raya 

Medan – Brastagi sekitar 35 km dari
Medan. Memiliki udara yang sejuk dan sungai jernih yang sangan cocok untuk tempat pemandian. Banyak pengunjung datang ke sini untuk santai pada akhir pekan atau libur umum. Tempat ini dapat ditempuh selama 45 menit dengan kendaraan bermotor dari
kota
Medan. SIBOLANGIT

Sekitar 15 menit perjalanan dari Sembahe, tibalah di Sibolangit yang  berada kira-kira 40 km dari

kota
Medan. Sepanjang jalan akan terlihat Hutan Wisata yang sebelumnya merupakan kebun botani (tumbuh-tumbuhan) yang terletak di lereng pegunungan Bukit Barisan antara Sembahe dan lembah sekitarnya, memiliki udara yang sangat sejuk. Jalan-jalan kecil yang menyenangkan di hutan hujan ini berguna untuk pemberhentian para turis lokal maupun dari manca negara, di antara pakis-pakis raksasa dan pohon-pohon yang ditutupi lumut.
Para ahli botani akan dengan mudah dapat menemukan berbagai hal yang menarik dari tumbuh-tumbuhan langka yang banyak tumbuh di taman ini, di samping adanya berbagai burung-burung liar.
Di sepanjang jalan ini juga dapat ditemukan pondok-pondok durian yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat sambil makan durian.
BANDAR BARU

bandarbaru.jpgBandar Baru, merupakan suatu
kota kecil lebih kurang 47 km dari
Medan ke arah Brastagi, memiliki udara sejuk dan nyaman yang cocok untuk liburan serta berakhir pekan.
Kota kecil ini juga merupakan bumi perkemahan Pramuka yang pada tahun 1977 sebagai tempat pelaksanaan Jambore Internasional Pramuka. 
Di sini juga terdapat Yayasan Gelora Kasih yang merupakan tempat penyandang anak-anak yatim piatu yang dikelola oleh GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) 
PENATAPEN (PEMANDANGAN)penatapen.jpgPenatapen adalah merupakan tempat lintasan jalan
Medan – Brastagi yang dekat dengan perbatasan antara Tanah Karo dengan Deli Serdang. Di tempat ini sering digunakan sebagai tempat pemberhentian sejenak bagi orang yang telah lelah dalam perjalanan sambil menikmati hangatnya jagung rebus dan jagung bakar. Dari sini kita bisa memandang ke arah Bandar Baru dan
Medan, juga bisa melihat air terjun Sikulikap serta jalur pendakian ke gunung Sibayak.

LAU DEBUK-DEBUK
lau-debuk2.jpgLau Debuk-debuk merupakan sebuah desa yang memiliki sumber air panas dengan kandungan belerang, banyak dikunjungi oleh turis untuk menikmati hangatnya air belerang dalam suasana kesejukan udara pegunungan. Desa ini terletak lebih kurang 10 km dari Bandar Baru menuju Brastagi, di kaki gunung Sibayak yang memiliki ketinggian sekitar 2.100 km dari permukaan laut

TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BARISAN 
tahura1.jpgTaman Nasional Tongkoh yang diberi nama
Taman
Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan berlokasi kira-kira 6 km sebelum
kota Brastagi, dalam perjalanan dari
Medan.
Taman itu punya kebun binatang dengan pondok-pondok unik dan gajah tunggangan untuk anak-anak. Jalan setapak menuju hutan juga tersedia, untuk pengunjung yang ingin meneliti ataupun sekedar melihat tumbuhan hutan, anggrek-anggrek liar, pakis-pakis besar, berbagai tumbuhan kayu liar berselimut lumut dan jamur, beragam jenis kupu-kupu, burung-burung, kera, dan lainnya. 


BUKIT KUBU

Bukit Kubu adalah salah satu hotel yang memiliki arsitektur peninggalan zaman kolonial, mempunyai arena atau lapangan latihan golf, tenis, serta kebun-kebun bunga yang indah. Bukit Kubu sering dikunjungi oleh turis-turis dari Eropa, khususnya wisatawan asal Belanda untuk menikmati akhir pekan mereka dengan mengenang keadaan zaman kolonial lalu. 

BRASTAGI
berastagi.jpgBrastagi adalah tujuan wisata utama di Tanah Karo yang terletak di ketinggian sekitar 4.594 kaki dari permukaan laut dan dikelilingi barisan gunung-gunung, memiliki udara yang sejuk dari hamparan perladangan pertaniannya yang indah, luas, hijau, dan Brastagi merupakan daerah tujuan wisata yang memiliki fasilitas lengkap di Tanah Karo, seperti hotel berbintang, restotran, golf dan lain-lain sampai kepada hotel yang tarifnya relatif dapat terjangkau. Brastagi juga dikenal dengan julukan
kota
“Markisa”.
Dari

kota “Markisa” Brastagi, para pengunjung akan menikmati pemandangan yang indah ke arah pegunungan yang masih aktif, yaitu gunung Sibayak dan gunung Sinabung.


Untuk mendaki gunung Sibayak diperlukan waktu lebih kurang 3 jam perjalanan dan kita bisa menikmati pemandangan yang indah di pegunungan tersebut atau perlu waktu 3 sampai 4 jam perjalanan di hutan untuk melihat kekayaan alam di dalamnya baik flora maupun fauna di sekitar hutan tersebut.  Selain buah-buahan markisa, Brastagi juga terkenal sebagai penghasil berbagai jenis sayur-sayuran, buah-buahan dan bunga-bunga. Di
kota Brastagi dilaksanakan beberapa peristiwa pariwisata antara lain “Pesta Buah” atau festival buah dan festival kebudayaan “Pesta Mejuah-juah” yang diadakan setiap tahun. Tanah Karo juga memiliki tradisi yang telah turun temurun dilakukan yaitu “Kerja Tahun” yang diselenggarakan setiap tahun oleh orang-orang Karo yang tinggal di daerah tersebut ataupun yang sudah merantau datang kembali ke perkampungan yang memiliki hubungan keluarga untuk saling berkunjung dan bersilaturahmi. 
KAMPUNG LINGGA

lingga.jpgKampung Lingga terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut, lebih kurang 15 km dari Brastagi. Lingga merupakan perkampungan Batak Karo yang unik, memiliki rumah-rumah adat yang diperkirakan berumur 250 tahun, tetapi kondisinya masih kokoh. Rumah tersebut dihuni oleh 5-6 keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Rumah adat Karo ini tidak memiliki ruangan yang dipisahkan oleh pembatas berupa dinding kayu atau lainnya. 

SIPISO-PISO

Sipiso-piso terletak lebih kurang 24 km ke utara Kabanjahe menuju ke arah Danau Toba, merupakan air terjun yang terkenal dengan ketinggian lebih kurang 360 kaki sebelum mengalir ke Danau Toba. Daerah ini memiliki pemandangan yang indah seperti daerah Tao Silalahi yang berada di dekatnya dan terletak di bagian utara Danau Toba. 
sipisopiso.jpgsipisopiso222.jpg
source : http://www.geocities.com/merga_silima/telusur.html



 Gunung Sibayak

Sampai saat ini sepertinya Gunung Sibayak tidak akan habis-habisnya didaki oleh pencinta alam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Pada hari-hari tertentu lokasi wisata penuh petualangan ini seperti layaknya pasar malam. Lautan manusia tumpah bersama lampu, lilin yang memancarkan keindahan ketika malam hari. Deru angin yang dingin menambah pesona Gunung Sibayak bertambah menarik untuk dikunjungi.
Gunung Sibayak (2094 mdpl) secara administratif terletak di Desa Raja Berneh atau lebih dikenal dengan sebutan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo (60 KM dari Kota Medan). Daerah yang berada di kaki Gunung Sibayak merupakan kawasan pertanian yang bercocok tanam sayuran dan hortikultura lainnya. Tidak salah kalau lokasi ini menjadi salah satu daerah tujuan agrowisata yang ada di Sumatera Utara.

Jalan menuju lokasi Gunung Sibayak tidak terlalu sulit. Pendakiannya tidak membutuhkan teknik khusus. Bahkan pendaki pemula akan dengan mudah mencapai puncak serta menikmati embusan angin berbau belerang yang keluar dari kawah Gunung Sibayak. Dari Kota Medan, lokasi ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. Tarifnya bervariasi antara Rp3000—Rp3500 sekali pergi.

Sementara itu, titik pendakian menuju Gunung Sibayak ada di beberapa lokasi, di antaranya kawasan jalur Lima Empat. Disebut jalur Lima Empat karena lokasi ini berada pada posisi KM 54 dari Kota Medan. Jika perjalanan diawali dari jalur Lima Empat kita dapat menikmati santapan jagung bakar atau rebus sebelum melanjutkan perjalanan. Dari titik ini perjalanan menuju puncak Gunung Sibayak dapat ditempuh dengan waktu 3-4 jam.

Selain udara sejuk, jagung rebus dapat dinikmati dengan harga yang terjangkau berkisar Rp 1000 per buahnya. Tidak jauh dengan lokasi ini, juga dapat melihat Air Terjun Sikulikap yang memiliki ketinggian di atas 7 meter. Pendek kata kita dapat menikmati suasana tersebut untuk mendapatkan kepuasan dengan biaya yang terbilang ekonomis. Jalur pilihan yang juga biasa dipergunakan adalah jalur Simpang Doulu atau jalur tangga yang berada di Desa Semangat Gunung.

Dari jalur ini, perjalanan relatif lebih pendek sekitar 2 jam dengan menempuh jalur tangga yang selama ini menjadi jalur yang ramai dilintasi. Sebelum beranjak menuju puncak Gunung Sibayak, di kawasan Doulu akan ditemukan lokasi pemandia air panas yang bersumber dari kawah Gunung Sibayak. Sedangkan jalur lintasan lainnya adalah jalur pariwisata dari Kota Wisata Brastagi dengan jarak tempuh 4 jam, dan jalur dari Kecamatan Sibolangit yang membutuhkan waktu perjalanan tiga hari.

Setelah sampai di Puncak Gunung Sibayak, pengunjung dapat menikmati pesona dan gugusan bebatuan serta kawah yang mengembuskan asap berbau belerang. Pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari pagi yang menyemburkan sinar di sela-sela bebatuan yang ada. Sementara sore harinya kita akan menyaksikan keindahan lembayung senja sambil menunggu matahari menuju peraduannya di ufuk Barat. Dari puncak Gunung Sibayak terlihat juga dari kejauhan beberapa perkampungan di bawahnya serta puncak Gunung Sinabung yang memang berdampingan dengan Gunung Sibayak.

Selain Gunung Sibayak, di daerah ini amatlah banyak daerah yang dapat dijadikan tempat berekreasi dengan satu spesifikasi keindahan alam dan kesejukan udaranya. Tidak mengherankan kalau menjelang akhir tahun atau hari libur penginapan serta hotel yang berada di kawasan tersebut padat. Di daerah Karo Simalem bukan hanya itu yang dapat kita nikmati, pemandangan dan gugusan pegunungan yang berada di dataran tinggi yang sejuk juga telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kawula muda.

Setidaknya sampai hari ini ada dua lokasi yang sering dikunjungi oleh banyak orang, yaitu Sibayak dan Sinabung. Kedua lokasi ini tetap menjadi primadona dengan sajian panorama dan kesejukan yang hampir tidak jauh berbeda. Namun, di lokasi Sinabung tersebut kita akan menemukan danau air tawar yang juga memberikan keindahan tersendiri. Tidak jarang pendatang akan berulang kali mengunjungi lokasi tersebut.

Desa Semangat Gunung pasti sudah melekat di hati mereka yang memiliki hobi jalan dan berendam dengan air panas belerang. Berada di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanahkaro, kawasan ini menjadi pilihan wisata akhir pekan bagi keluarga. Dengan balutan udara sejuk karena berada di kaki Gunung Sibayak, daerah kunjungan wisata ini dianugerahi air panas belerang. Ali mengalir sepanjang masa dengan balutan panorama eksotis yang menyajikan suasana indah, tenang serta damai. 
Sumber : Perempuan.com
 

Keindahan Alam Danau Toba serta Daya Tarik Pendukung nya

Keindahan kawasan Danau Toba
Gambar 1. Batas administrasi dan perairan di Danau Toba.
Gambar 1. Batas administrasi dan perairan di Danau Toba.
Danau toba adalah danau terbesar di Indonesia yang terletak di Propinsi Sumatra Utara yang berjarak 176 km ke barat dari ibukota propinsi ini yaitu Medan. Danau Toba dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dari Medan dengan jarak tempuh sekitar tiga sampai empat jam. Dengan pesawat menuju kota Medan hanya memakan waktu 40 menit dari Singapura dan 2 jam dari Jakarta, ibukota Indonesia.
Sebagai danau hasil volcano tektonik terbesar di dunia, dengan panjang danau 87 km dari baratdaya ke tenggara dan lebar 27 km, lokasi ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimal 505 meter, danau ini menjadi salah satu aset pariwisata yang penting bagi Indonesia. Keindahan alam Danau Toba telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Perairan danau yang biru, penduduk yang sangat ramah dan budaya Batak yang sangat mempesona, menarik wisatawan dari seluruh dunia dengan tujuan menikmati pemandangan Danau. Pada bagian tengah danau terdapat pulau indah yang dikenal dengan Samosir.
Berkeliling dari tepi danau hingga pulau Samosir adalah suatu petualangan agung dan sangat mengesankan bagi para pengunjung. Danau Toba meliputi luasan daerah 3,658 km2, dengan luas permukaan danau 1,103 km2. Sisa dari luasan area tersebut sekitar 43% merupakan bukit-bukit dan 30% bergunung-gunung, dengan puncak tertinggi 2,000 m di atas permukaan laut.
Lingkungan biota (flora dan fauna) yang menarik, suhu udara yang dingin dan lingkungan yang menyegarkan, udara bersih, lahan yang subur menjadikan tempat ini sebagai tempat ideal untuk tempat tinggal manusia
Tidak heran berabad-abad yang lalu nenek moyang dari Suku Batak memilihnya sebagai lokasi tempat tinggal permanen mereka. Di tempat inilah keturunan mereka berkembang menjadi lima kelompok kesukuan Batak, yakni dikenal dengan Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun dan Toba. Pulau Samosir dan tepi danau Toba menjadi lokasi perkembangan dari budaya Batak asli, yang mengandung budaya yang tinggi dari nilai sejarah dan peninggalannya, budaya dan seninya. Sesungguhnya, budaya Batak masih hidup dan dapat disaksikan di sini, yang masih terpelihara dalam format aslinya.
Posisi geografis yang unik juga terlihat karakter sumber mata pencahariannya yang penting bagi pengembangan ekonomi, yang sebagian besar diperoleh dari perairan yang bersih, sumber daya yang berlimpah-limpah dan hutan hujan tropis yang lebat. Danau Toba terletak di pusat suatu puncak topografi dengan panjang 300 km, dengan beda tinggi berkisar antara 100-1,000 m di dalam peta topografi Sumatra Utara. Puncak morfologi ini biasanya disebut Batak Tumor yang sejajar dengan arah memanjang Pulau Sumatra.
Badan air Danau Toba dengan luas 1.103 km2 yang menempati 3 area, Pulau Samosir di dalam danau mempunyai luas daratan 647 km2 dan suatu Pulau Pardapur yang lebih kecil dengan luas area 7 km2. Panjang danau adalah 87 km, dengan ukuran panjang keliling danau 294 km. Area cekungan danau dikelilingi oleh batuan vulkanik, dengan tinggian yang berkisar antara 400 hingga 1200 m di atas muka air danau. Danau ini terletak pada garis lintang dan garis bujur antara 98030′ BT; 3005′ LS dan 99020 BT’; 2040′ LS.
Batas perairan Danau Toba meliputi suatu area seluas 3,704 km2 yang terbagi ke dalam lima Kabupaten, yaitu. Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Dairi dan Karo. Di wilayah Danau Toba, terdapat suatu area untuk tujuan konservasi yang berfungsi sebagai resapan air, pengendalian polusi udara, pencegahan erosi lahan dan stabilisasi lahan.
Kabupaten Toba Samosir yang terdiri dari duabelas kecamatan merupakan daerah paling besar dari seluruh batas perairan (64%), yang diikuti oleh Kabupaten Tapanuli Utara empat kecamatan (21%), lima kecamatan di Kabupaten Simalungun (10%), Kabupaten Karo satu kecamatan (3%) dan satu kecamatan di Kabupaten Dairi (2%), (gambar 1).
Duapuluhtiga (23) daerah yang terbagi dalam lima (5) kabupaten telah termasuk dalam area perairan danau Toba, yaitu antara lain, 1)Sianjur Mula-mula, Harian, Simanindo, Pangururan, Palipi, Onanrunggu, Onanrunggu Timur, Lumbanjulu, Porsea, Silaen, Laguboti dan Balige di Kabupaten Toba Samosir; 2)Silimakuta, Purba, Dolok Pardamean, Sidamanik dan Girsang Sipanganbolon di Kabupaten Simalungun; 3)Doloksanggul, Muara, Lintongnihuta and Siborong-borong of Kabupaten Tapanuli Utara; 4)Merek di Kabupaten Karo; dan 5)Sumbul di Kabupaten Dairi.
Kegiatan kepariwisataan
Cekungan Danau Toba memberikan suatu kontribusi cukup besar dalam pengembangan ekonomi lokal, daerah, maupun ekonomi nasional. Keindahan alam dan kesempurnaan budaya Batak telah menimbulkan kegiatan pariwisata yang menyediakan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Letak geografis Danau Toba yang unik memiliki sejumlah potensi ekonomi yang dapat digunakan untuk kepentingan luas masyarakat, terutama sebagai sumber air bersih yang besar, dan hutan tropis yang dapat menarik minat dari investor untuk menanam modal di daerah ini bagi pengembangan kepariwisataan yang ramah lingkungan.
Dari segi estetika, daya pikat Danau Toba terdapat dalam kecantikan alamnya yang sangat terkenal di dunia internasional. Dari sudut manapun danau tersebut menggiurkan dan dapat membuat setiap pendatang seperti yang sedang dibuai oleh perasaan sangat gembira. Kecantikan dari tiap sudut Danau Toba, dengan bukit hijau yang merias Pergunungan Bukit Barisan yang diselimuti dengan air terjun yang menghiasinya membuat wisatawan yang datang ke kawasan Toba dapat menyaksikan atraksi alam yang sangat agung. Pulau Samosir dan garis pantai Danau Toba menjadi pusat kelahiran Budaya Toba Batak dan rumah peninggalan budaya dan historis yang tidak ternilai harganya. Di tempat ini, budaya Batak masih kental dan tersaji dalam bentuk aslinya. Modernisasi telah menyebabkan migrasi penduduk dan saat ini ada banyak penduduk Batak yang tinggal di luar daerah itu dibanding yang tinggal di sekitar tempat itu atau di sekitar Danau Toba. Meskipun demikian, kota asal ini tetap merupakan identitas mereka sebagai Batak kendati mereka tinggal di tempat jauh sekali. Total penduduk dari lima daerah wisata utama Danau Toba terdiri dari Tomok/ Simanindo, Balige, Porsea, Ajibata dan Parapat adalah 102,477 orang atau 17% dari jumlah penduduk seluruhnya yang tinggal di batas perairan Danau Toba. Kegiatan pariwisata di sekitar kawasan Danau Toba, telah mendorong pengembangan 168 hotel, dari yang tradisional/Batak home-stay sampai hotel bintang empat.
Keunikan geofisik dan sejarah terbentuknya Danau Toba sebagai daya tarik geowisata
gambar 2. Citra satelit Pulau Sumatera yang menunjukkan arah pergerakan Lempeng Australia (Australia Plete) dan Lempeng Eurasia (Eurasia Plate). Nampak, kawasan kaldera Danau Toba bersebelahan dengan Patahan Besar Sumatera (Great Sumatera Fault – GSF) (sumber: www.geology.sdsu.edu).
gambar 2. Citra satelit Pulau Sumatera yang menunjukkan arah pergerakan Lempeng Australia (Australia Plete) dan Lempeng Eurasia (Eurasia Plate). Nampak, kawasan kaldera Danau Toba bersebelahan dengan Patahan Besar Sumatera (Great Sumatera Fault – GSF) (sumber: www.geology.sdsu.edu).
Geologi Danau Toba telah menjadi suatu topik yang menarik untuk dipelajari. Secara geologi, pembentukan danau ini merupakan hasil suatu aktivitas volkanik besar sepanjang zaman Kuarter atau dua setengah juta tahun yang lalu. Perlu diketahui bahwa bagian barat Pulau Sumatera merupakan sistem busur vulkanik yang memanjang dari Aceh hingga di Teluk Lampung. Busur vulkanik tersebut terbentuk oleh tumbukan dua lempeng besar yang dimulai sejak Jaman Eosen atau 65 juta tahun yang lalu. Lempeng ini adalah lempeng samudera India atau Lempeng Australia di barat-daya dan Lempeng Eurasia yang terletak di timur-laut (Gambar 2). Tumbukan lempeng ini membentuk suatu zone subduksi yang panjang dengan suatu rangkaian gunungapi sepanjang Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara sampai ke Kepulauan Maluku. Di Sumatra mengakibatkan terbentuknya suatu patahan geser besar (transform fault) yang disebut dengan Zone Patahan Besar Sumatra ( SFZ= Sumatra Great Fault Zone). Patahan ini memiliki ukuran panjang 1700 km, tersingkap dari Teluk Lampung di bagian selatan hingga daerah Aceh di ujung utara Pulau Sumatra. Danau Toba terletak di bagian timur laut dari zone Patahan Sumatra (Gambar 3 dan Gambar 4). Sedangkan sungai Batang Toru dan Sungai Renun terletak di sepanjang patahan itu.
Dua penjelasan ilmiah yang utama mengenai sejarah geologi Danau Toba diterangkan sebagai: (a)produk satu ledakan dahsyat; atau (b)produk gabungan dari berbagai peristiwa erupsi gunungapi. Kedua hipotesis ini dibagi lagi menjadi beberapa pendapat yang lebih kecil dan penjelasan yang lebih detail. Ada perdebatan yang sengit mengenai penentuan waktu terjadinya peristiwa geologi ini, apakah kejadian itu terjadi baru-baru ini (kurang dari 75.000 tahun yang lalu) atau merupakan hasil satu rangkaian yang menyangkut proses geologi antara lain proses pembentukan kubah (up-doming), peledakan, pensesaran, sedimentasi, dan up-wrapping yang yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu. Keunikan geofisik dan Danau Toba adalah landsekap yang terbentuk dari erupsi super kuat, sehingga membentuk kaldera Danau Toba tersebut. Keunikan inilah yang menjadi dasar minat seseorang mengunjungi dan berpetualang di kawasan Danau Toba.
Gambar 3.  Kaldera Danau toba dan Pulau Samosir, di bagian timur  dari zone Patahan Besar Sumatera. (www.volcano.si.edu)
Gambar 3. Kaldera Danau toba dan Pulau Samosir, di bagian timur dari zone Patahan Besar Sumatera. (www.volcano.si.edu)
Menurut hipotesis yang dilakukan oleh van Bemmelen (1949), seorang ahli geologi dari Belanda menyimpulkan sejarah danau diawali dengan pembentukan Batak Tumor dengan bentuk oval seperti bentuk telur seluas 300 km dengan darerah 150 km, terletak di antara sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di Selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat suatu pengangkatan hingga 2,000 m yang ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti G. Sibuatan (2.457 m) di Barat Laut, G. Pangulubao (2.151 m) di timur, dan G. Surungan (2.173 m) di Tenggara, dan G. Uludarat (2.157 m) di Barat.
Van-Bemmelen (1949), mengatakan bahwa kawasan Danau Toba dikelilingi oleh kelompok batuan hasil letusan gunungapi, dan danau tersebut merupakan suatu bekas caldera volkanik yang sangat besar. Letusan abu vulkanik yang menyebabkan terbentuknya kaldera Toba, tersebar hingga wilayah Malaysia dan India, hingga jarak 3.000 km. Hal tersebut, dibuktikan dengan dijumpai abu riolit yang sama di sekitar Danau Toba dengan yang ditemukan di wilayah Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal.
Gambar 4. Pola patahan besar Sumatera, pola Pulau Samosir, geometri Danau Toba yang berbentuk elipsoid searah dengan memanjangnya patahan besar Sumatera (Sumatera Fault Zone : SFZ) (Knight et.al., 1986; Pdf document).
Gambar 4. Pola patahan besar Sumatera, pola Pulau Samosir, geometri Danau Toba yang berbentuk elipsoid searah dengan memanjangnya patahan besar Sumatera (Sumatera Fault Zone : SFZ) (Knight et.al., 1986; Pdf document).
Kaldera yang berukuran (30 hingga 100 km) dan mempunyai relief dengan ketinggian hingga mencapai 1.700 m. Kaldera ini dibentuk dalam beberapa periode letusan. Letusan besar terjadi 840.000, sekitar 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Letusan 75.000 tahun yang lalu memproduksi endapan Toba Muda dengan kandungan tuf (abu vulkanik berukuran sangat halus) yang tinggi.
Letusan Toba, yang diperkirakan terjadi 73.000 ± 4000 tahun yang lalu, menjadi letusan terakhir dan terbaru sebagai “supervolcano”. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan bahwa total jumlah material dari letusan adalah sekitar 2800 km3; dengan 800km3 ignimbrite yang mengalir di dataran dan di 2.000km3 itu jatuh sebagai abu yang diterbangkan oleh angin yang bertiup ke arah barat. Letusan yang sangat besar itu mungkin bertahan hampir dua minggu. Hanya sedikit binatang dan tumbuhan di Indonesia yang selamat, dan mungkin letusan menyebabkan suatu bagian yang luas dari kehidupan planet mati satu per satu. Ada beberapa bukti, berdasar pada mitochondrial DNA, bahwa ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu individu akibat letusan Toba. Suatu area besar yang anjlok setelah letusan akibat dimuntahkannya material letusan (material vulkanik) dalam volumen yang sangat besar dan kuat, kemudia membentuk suatu kaldera, yang terisi dengan air yang membentuk Danau Toba. Kemudian, dasar dari kaldera terangkat membentuk Samosir, suatu pulau besar di dalam danau. Pengangkatan seperti itu sering terjadi pada kaldera yang sangat besar, hal tersebut terjadi akibat tekanan keatas oleh magma. Toba merupakan caldera yang terbesar yang terbentuk di atas permukaan bumi ini (Yokohama dan Hehanusa, 1981).
Gambar 5. Peta kawasan Kaldera Danau Toba (Knight et.al.,1986), (www.volcano.md.nodak.edu.)
Gambar 5. Peta kawasan Kaldera Danau Toba (Knight et.al.,1986), (www.volcano.md.nodak.edu.)
Menurut Knight et.al. (1986), Pulau Samosir dan Semenanjung Uluan adalah bagian-bagian dari satu atau dua kubah yang terbentuk kembali. Endapan danau di Pulau Samosir menunjukkan telah terjadi pengangkatan, kurang lebih mencapai 450 m. Pusukbukit, merupakan suatu stratovolcano kecil sepanjang garis tepi barat dari kaldera Toba, terbentuk setelah letusan 75,000 tahun yang lalu (Gambar 5). Terdapat juga solfatara yang masih aktif pada sisi utara dari gunungapi.
Setelah terjadi letusan 74.000 tahun yang lalu, mulai terbentuk kubah (dome) di dalam kaldera yang luas yaitu sebagai proses pembentukan Pulau Samosir dengan ketinggian 750 m di atas muka air Danau Toba. Endapan Tuff Toba yang muda, diperkirakan memiliki volume 2.800 kilometer kubik (km3) dan meletus sekitar 74.000 tahun yang lalu. Sebagai perbandingan letusan yang terjadi di Gunungapi Yellowstone sekitar 2.2 juta tahun yang lalu, meletuskan volume piroklastik hingga 2.500 km kubik. Volume piroklastik dari letusan termuda tersebut, menjadi letusan yang paling besar dalam seperempat abad terakhir. Aliran piroklastik menutupi suatu area sedikitnya 20.000 km2. Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai ketinggian 400. Pada Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mempunyai ketebalan hingga lebih dari 600 m. Debu volkanik menutup suatu area sedikitnya 4 juta km persegi (sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat). Debu volkanik juga ditemukan pada cekungan di Teluk Bengal dan di India, kurang lebih 300 miles ( 500 km) dari pulau ( 1,900 miles, 3100 km dari Toba).
Keunikan geofisik dan sejarah terbentuknya kaldera Danau Toba inilah yang dapat memunculkan apresiasi geowisata bagi siapa pun yang berkunjung ke kawasan Danau Toba. Kentalnya budaya Batak yan asli di kawasan Danau Toba ini juga dapat menimbulkan apresiasi wisatawan untuk melakukan proses pembelajaran budaya masyarakat Batak terhadap kondisi geofisik Danau Toba dari waktu ke waktu.
(sumber :http://geologi.iagi.or.id/2010/04/19/keunikan-geofisik-kaldera-danau-toba-sebagai-potensi-geowisata/)


PRASARANA



1. Angkutan Darat/Land Transportation Jalan merupakan prasarana untuk menghubungkan antara suatu daerah terhadap daerah lainnya. Selain itu memperlancar dan mendorong timbulnya kegiatan perekonomian. Sebagai prasarana transportasi yang penting, dari segi kuantitas selain harus dapat menjangkau daerah yang terisolir, juga memperhatikan dari segi kualitas, yaitu keadaan/kondisi jalan serta rambu-rambu jalan. Sejalan dengan laju pembangunan jalan untuk semakin memudahkan mobilitas penduduk dan barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di Kabupaten Samosir pada tahun 2005 mencapai 774,48 km.
 
2. Angkutan Danau Selain keindahan Danau Toba, perairan Danau Toba juga berfungsi sebagai prasarana transportasi air yang menghubungkan antar daerah, khususnya menghubungkan antara Pulau Samosir dengan daerah Toba. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang pada angkutan danau di Kabupaten Samosir tahun 2003 dari 5 dermaga masing-masing 4.717 kunjungan kapal; 115.667 penumpang dan 578,9 ton barang. Dermaga Tomok merupakan dermaga yang paling sibuk. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang di dermaga tersebut tahun 2005 masing-masing 2.053 kunjungan kapal, 38.290 penumpang dan 46,7 ton barang.
 
3. Pariwisata Didukung oleh sumber daya alam dan keindahan Danau Toba, sektor pariwisata merupakan sektor potensial yang dapat menjadi andalan di Kabupaten Samosir dimasa mendatang. Perencanaan, pengembangan, penge-lolaan dan penyediaan sarana dan prasarana yang baik akan menjadikan Kabupaten Samosir sebagai tempat pariwisata yang indah. Jumlah hotel di Kabupaten Samosir tahun 2005 sebanyak 79 hotel, dengan 1.264 kamar dan 2.570 tempat tidur.
 
4. Pos Pelayanan pos saat ini tidak hanya melayani jasa pengiriman surat–menyurat saja, sering dengan perkembangan jaman, pelayanan jasa pos jauh lebih kompleks dengan berbagai pelayanan yang ditawarkan oleh PT. (Persero) Pos Indonesia. Untuk memperluas jangkauan pelayanan, pemerintah telah banyak membangun kantor pos baru. Jumlah kantor pos di Kabupaten Samosir tahun 2005 sebanyak 5 unit. Surat kilat (khusus dan tercatat) yang dikirim dan diterima tahun 2005 masing-masing sebanyak 21.163 dan 33.448 surat.
 
5. Pasar Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli barang maupun jasa. Pasar berfungsi sebagai tempat bagi masyarakat dalam memasarkan hasil-hasil pertanian, perkebunan dan lain-lain. Jumlah wajib retribusi (WR)pekan/pasar di Kabupaten Samosir tahun 2003 berjumlah 3.445 WR; yang terbesar pada 7 pekan/pasar/Kecamatan. Dari 3.445 WR, 16 diantaranya merupakan WR yang menempati kios dan terletak di pekan Simanindo. Ada 217 wajib retribusi yang menempati Balairung, 257 wajib retribusi yang menyewa tanah dalam pekan, 483 wajib retribusi yang menyewa tanah diluar pekan dan sebanyak 2.443 wajib retribusi Harian undung-undung.
 
6. Pelelangan Ikan Tempat pelelangan ikan secara khusus di Kabupaten Samosir sampai saat ini belum tersedia, disebabkan hasil dari keramba apung sebagai tempat memproduksi ikan pada umumnya dipasarkan langsung ke Pekan-pekan yang ada di setiap Kecamatan dan diluar Kab. Samosir. Sedangkan para nelayan yang ada hanya terbatas untuk konsumsi keluarga.
 
7. Perbankan Perbankan berfungsi sebagai penghimpunan dan penyalur dana, memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perekonomian. Jumlah bank di Kabupaten Samosir tahun 2003 berjumlah 7 buah (baik bank kantor cabang maupun unit), terdiri dari 4 bank pemerintah, satu bank daerah dan dua bank perkreditan rakyat (BPR).
 
8. Sekolah Sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Taman Kanak-Kanak pada tahun 2004 sebanyak 4 unit sekolah yang dikelola swasta dengan jumlah guru sebanyak 12 orang dan 197 orang muda. Pada tingkat sekolah dasar (SD), prasaran pendidikan sampai dengan tahun 2004 berjumlah 202 unit sekolah yang terdiri dari 195 sekolah dasar negeri, dan 7 sekolah dasar swasta dengan jumlah guru 1.156 orang, dan murid 24.170 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 20 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 119 orang, atau rata-rata 19 siswa per kelas. Secara umum rasio guru terhadap guru tidak merata per sekolah, diaman ada unit sekolah yang gurunya hanya satu atau dua orang. Pada tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) prasaran pendidikan yang sudah ada pada tahun 2004 berjumlah 30 unit sekolah, dengan guru 492 orang, dan murid 10.337 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 22 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 350 orang. Pada tingkat Sokolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) prasaran pendidikan yang sudah ada pada tahun 2004 berjumlah 18 sekolah, dengan guru 219 orang, dan murid 2.281 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 20 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 338 orang.
 
9. Rumah Sakit dan Puskesmas Secara keseluruhan sarana kesehatan di Kabupaten Samosir masih dominan di kelolah pemerintah, seperti rumah sakit dan puskesmas dengan jumlah rumah sakit 1 unit, puskesmas 10 unit (Kecamatan sitio-tio tidak ada) dan 43 unit polindes yang tersebar di tiap kecamatan dan desa/kelurahan seperti pada tabel dibawah ini. Sedangkan sarana kesehatan swasta rumah sakit 1 unit dan yang terbanyak adalah 11 unit toko obat.
 
10. Perumahan Penyediaan perumahan merupakan salah satu masalah yang masih memerlukan penanganan secara serius, baik mengenai kelengkapan sarana perumahannya maupun kelengkapan fasilitas lingkungannya. Rumah yang layak sebaiknya mampu memenuhi syarat kesehatan bagi penghuninya. Demikian pula letaknya dengan fasilitas social dan fasilitas seperti : sekolah, tempat berobat, pasar dan tempat rekreasi. Dengan kondisi seperti ini, kondisi perumahan beserta lingkungannya dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk mengetahui kondisi perumahan dan lingkungan di Kabupaten Samosir, maka akan disajikan table-tabel yang menggambarkan keadaan tersebut melalui data tentang keadaan dan fasilitas rumah yang ditempati maupun dimiliki seperti : luas lantai dan jenisnya, jenis dinding, atap serta fasilitas air minum, penerangan dan sanitasinya.
 
10.1 Lantai Rumah Luas lantai merupakan salah satu indicator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena luas lantai merupakan salah satu aspek yang dapat menggambarkan keadaan suatu tempat tinggal. Luas lantai terkait dengan tingkat penghasilan rumah tangga. Semakin tinggi pula tingkat ekonomi rumah tangga penghuni rumah tersebut. Perubahan secara relatif luas lantai rumahtangga dapat dilihat dari hasil Susenas 2003 dimana sebagian besar rumahtangga menempati rumah dengan luas lantai 20-99 m2 (98,40 persen). Dibandingkan dengan kondisi perumahan pada tahun 2002, persentase rumahtangga yang menempati luas lantai di atas 100 m2 pada tahun 2003 tidak mengalami perubahan yang signifikan, perubahan yang signifikan terjadi untuk kelompok luas lantai 20-49 m2 yakni dari 54,40 persen pada tahun 2002 menjadi 57,70 persen pada tahun 2003. Disamping luas lantai, yang perlu menjadi perhatian adalah jenis lantainya. Lantai yang sudah ditutupi dengan semen/bata, ubin/tegel, marmer, atau sejenisnya dapat dikatakan kondisinya sudah layak/sehat. Pada saat survei ini dilaksanakan sekitar 98,00 persen rumah di Kabupaten Samosir lantainya sudah tidak dari tanah lagi. Keadaan ini mengalami penurunan sedikit dibandingkan dengan tahun 2002 yang persentasenya menjadi 99,30 persen.
10.2 Penggunaan Jenis Dinding dan Atap Rumah Seperti halnya kepemilikan barang rumahtangga lainnya, penggunaan jenis dinding dan atap rumah, disamping luas dan jenis lantai tentunya, dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan pemiliknya. Pada tahun 2003 persentase rumahtangga menurut jenis dinding, terlihat bahwa di Kabupaten Samosir, kayu/papan paling banyak digunakan sebagai dinding rumah, yaitu sebesar 89,90 persen, kemudian tembok sebanyak 12,30 persen. Sedangkan kelebihan masih menggunakan bambu atau bahan lainnya untuk dinding rumahnya. Selanjutnya penggunaan seng/asbes untuk atap secara umum palin benyak digunakan rumahtanga di Kabupaten Samosir, yaitu 98,80 persen rumahtangga, meningkat dibandingkan tahun 2002 yan jumlahnya mencapai 96,30 persen. Secara ekonomi, seng/asbes memang lebih murah dibandingkan genteng, namum pemilihan seng/asbes sebagai atap di Samosir memang tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat setempat.
10.3 Sumber Penerangan Fasilitas perumahanyang digunakan oleh rumahtangga dapat mencerminkan tingkat kesehatan rumah dan lingkungannya. Pada tahun 2003 sekitar 94,10 persen rumahtangga sudah menggunakan listrik untuk penerangan. Perlu menjadi bahan pertimbangan bagi yang berwenang dalam masalah kelistrikan untuk dapat memperluas jangkauan jarinan listriknya agar seluruh masyarakat dapat menikmatinya.
10.4 Sumber Air Minum Pemanfaatan air bersih oleh rumahtangga sebagai sumber air minum maupun untuk keperluan sehari-hari merupakan salh satu kebutuhan vital yang harus dipenuhi secara layak.kulaitas air yang digunakan terkait dengan tingkat kesehatan. Oleh sebab itu pada saat mencari tempat tinggal, biasanya yang menjadi perhatian utama adalah keadaan airnya. Dibanding dengan sumber air lainnya, air leding merupakan sumber air yang paling baik kulaitasnya. Air yang berasal dari pompa, sumur, sungai, hujan, dan sebagainya, diangap kurang baik karena kemungkinan tercemarnya relatif cukup besar. Baru sekitar 5,20 persen rumahtangga yang menggunakan air ledeng ebagi sumber air umumnya. Sumber air minum yang paling banyak adalah mata air terlindung (36,00), mata air tak terlindung (22,00 persen), lalu sumur terlindung dan lainnya (11,40). Kondisi tesebut sangat dimungkingkan mengingat kondisi geografis Kabupaten Samosir merupakan daerah perbukitan yang sulit dijangkau oleh air ledeng, dan umumnya masyarakat daerah ini masih menggunakan air sungai dan danau.
( sumber : http://www.samosirkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=143&Itemid=71&lang=id)


 Dan ini lah wisata di sekitaran danau Toba yang tidak kalah mengesankan.
 
 
Kabupaten Samosir memiliki daerah-daerah potensi wisata yang berbasis pemandangan alam, wisata spiritual, wisata pertanian, wisata budaya dan perairan Danau Toba. Daerah-daerah rekreasi tersebut tersebar di berbagai wilayah Kecamatan antara lain :
 

Kecamatan Simanindo



Obyek Wisata Sejarah
Makam Raja Sidabutar, berada di Tomok, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar pengusa kawasan Tomok pada masa itu.
Batu Parsidangan, berada di desa Siallagan adalah batu yang disusun sedemikian pada masa pemerintahan Raja Siallagan untuk tempat mengadili dan mengeksekusi para kriminal.
Museum Huta Bolon, tempat penyimpanan benda-benda kuno orang Batak
Obyek Wisata Seni dan Budaya
Pertunjukan Sigale-gale, berada di Tomok adalah kesenian rakyat berbentuk patung yang dibuat sedemikian sehingga dapat menari mengikuti irama musik tradisional gondang
Gedung Kesenian, bangunan tempat atraksi budaya dan seni, berada di Tuktuk Siadong
Obyek Wisata Alam
Batu Marhosa, berada di sigarantung, desa Parmonangan adalah fenomena alam batu benafas atau dapat menghembuskan udara
Goa Marlakkop, di desa Tanjung
Pagar Batu dan Bottean, di Lontung
Pantai Ambarita, tempat pemandian dan pemancingan
Aek Natonang, berlokasi di dsa tanjungan merupakan danau di atas danau dan direncanakan sebagai areal Hutan Wisata seluas 105 Ha.
Pulo Tao, restoran dan camping ground berada di Pantai Desa simanindo.
Tuktuk Siadong, kawasan berbentuk tanjung peninsula yang strategis sehingga saat ini menjadi pusat kegiatan wisata (central tourism district), dipenuhi oleh usaha hotel dan restoran serta pelukis dan pengukir.
Bukit Beta Kite Internasional, areal khusus di Tuktuk Siadong yang telah ditabalkan oleh Gubernur Sumatera Utara Bpk. T. Rizal Nurdin pada Bulan Agustus 2004 menjadi lokasi permainan layang-layang Internasional


Kecamatan Pangururan


air-panas.jpgObyek Wisata Alam
Pemandian Air Panas, berjarak 3 KM dari Kota pangururan
Obyek Wisata Sejarah
Terusan Tano Ponggol, terusan yang memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera yang dibuat oleh Kolonial Belanda dan sampai sekarang masih berfungsi.
Persanggarahan, bangunan peninggalan colonial Belanda yang pada saat ini digunakan sebagai kantor dan kediaman Penjabat Bupati Samosir, berada di Kota Pangururan.
Patung Liberty Malau, Sebuah Tugu peringatan perjuangan seorang  pejuang angkatan 45 dari Pulau Samosir yang membantu kemerdekaan Republik Indonesia.
Obyek Wisata Seni dan Budaya
Open Stage, bangunan panggung terbuka yang berada di tengah Kota Pangururan sebagai tempat atraksi seni dan budaya.
Komunitas Tenun Ulos Batak, kelompok masyarakat yang mengerjakan tenun tradisional ulos batak di desa Lumban Suhi-suhi berjarak + 4 Km dari Kota Pangururan.








Kecamatan Sianjur Mula Mula


Obyek Wisata Alam
Gunung Pusuk Buhit, asal mula suku Batak
Aek Boras, sumber mata air Guru Tatea Bulan
Aek Sipitu Dai, Sumber air yang dapat dialirkan menjadi tujuh saluran dan memiliki tujuh rasa serta dapat diyakini menyembuhkan berbagai penyakit.
Batu Sawan, Batu tempat air rasa jeruk purut
Pulo Tulas, Pulau kecil di tengah Danau Toba
Obyek Wisata Sejarah
Batu Parhusipan, tempat pertemuan Si Boru Pareme
Batu Pargasipan,
Batu Nanggor, Bukit martil batu tempat Seribu Raja menempa senjata
Batu Hobon, batu tempat penyimpanan barang pusaka.
Sigulatti, Tempat di pegunungan Pusuk Buhit yang diyakini asal mula orang Batak.











Kecamatan Onan Runggu


Obyek Wisata Alam
Lagundi Sitamiang, lokasi untuk perkemahan yang dilengkapi dengan pondok remaja
Tambun Surlau, tempat pemandian alam dengan air yang segar dan udara yang sejuk
Hariara Na Bolon, fenomena alam dimana bebrapa pohon beringin (hariara) menyatu membentuk pohon yang sangat besar
Pantai Bebas Sukkean, pantai dengan pasir putih yang masih alami dan telah sering dikunjungi wisatawan mancanegara untuk mandi dan berjemur.



 

Kecamatan Harian Boho

Obyek Wisata Alam
Menara Pandangan Tele, menara tmpat memandang panorama Danau Toba dari ketinggian pegunungan Tele.
Partukko Naginjang, di Desa Martahan Janji Martahan, tempat pendaratan peterbang layang
Air Terjun Sampuran Efrata Sosor Dolok, dengan tinggi 26 M dan lebar 10 M berada 3 KM dari Harian Boho
Mata Air Pohan Pokki, di Sihotang berjarak 2 KM dari Pelabuhan Sihotang
 
 
 

Kecamatan Nainggolan


Obyek Wisata Sejarah
Batu Guru, Sebuah Batu yang mempunyai tiga pondasi yang diyakini menjadi slogan orang Batak yaitu “dalihan Natolu “
Obyek Wisata Alam
Pantai maria Raja, Pantai bebas di Desa Maria Raja dengan pasir putih dan air danau yang jernih untuk pemandian dan rekreasi.







Kecamatan SiTio Tio

Obyek Wisata Sejarah
Mata Air Datu Parngongo, + 4 Km dari Dermaga Tamba adalah mata air bertuah yang dibuat oleh seorang Datu Parngongo yang terdapat di lerng bukit yang sangat curam.
Obyek Wisata Alam
Pantai bebas, Lokasi di desa Sabulan
Pemandian Boru Saruding, berada di Ranssangbosi sekitar + 35 Km dari Pangururan.



Kecamatan Ronggurnihuta

Obyek Wisata Alam
Danau Sidihoni, sebuah danau di tengah Pulau Samosir yang menjadi keunikan tersendiri dengan sebutan danau diatas danau.
Aek Liang, sebuah fenomena alam mata air di dalam goa.
Gua Sidam-dam
Batu Sidam-dam, batu hitam yang masih suci dan sacral
Obyek Wisata Sejarah
Simalinting, sebuah kubur besar


Kecamatan Palipi

Obyek Wisata Sejarah
Batu Rantai, di Kota Mogang
Piso Somalim, merupakan tempat bersejarah di Mogang
Obyek Wisata Alam
Air Panas Simbolon, kawasan berbatu belerang dimana terdapat mata air panas yang masih alami.





 ( sumber : http://www.samosirkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=153&Itemid=66&lang=id )


Dan inilah Tema KKN ku tahun 2012 Yang akan datang.
Semoga Lancar dan Berhasil.

Anak Hu na Burju

sebuah Lagu yang bisa membuat menangis siapa saja yang mengerti arti nya..
berasal dari Tanah Batak Yang artinya Anak ku Yang baik.
ilustrasi nya seorang anak Yang dahulu dikenal sebagai anak manja,,anak nakal karena masih terbawa-bawa sifat kanak" nya tetapi seirinng dengan perjalanan waktu anak itu bertumbuh menjadi sosok yang membuat nya harus berpisah dan terpisahkan karena masalah pendidikan dan cita-cita dari Si Anak..
Jadi si Anak Harus merantau di Kota orang.
Dengan kebiasaan Nya Yang manja Orang Tua si anak itu.
Dan Terbuat nya lagu ini oleh Orang Tua si Anak itu.
Yang mengharapkan agar Anak - Anak Nya menjadi saudara Yang rukun nanti nya..
Sesuai Harapan dan tentunya dengan Bantuan Dari Debata Jahowa.
Horas ma da.



salam damai

Putra Batak Toba

Rabu, 05 Januari 2011

Siapa Kah aku,,,?

Di Saat Tuhan mengizin Kan aku Hidup di Bumi ini...?
Di saat aku lahir dan bertumbuh menjadi manusia..?
Di Saat aku tahu seberapa besar Arti sebuah Ibu dan Keluarga....?
Di Saat Ku beranjak dan menilai penilaian orang terhadap ku Hampir semua nya salah....?
Di Saat Orang melihat sisi Gelap dunia Yang ku geluti....?
Di Saat Orang Lain menghakimi Ku dengan Kesalahan aku perbuat kepada Nya...?
Di Saat Orang mencibir ku dengn berbagai kelemahan dan kekurangan Yang aku miliki...?
Di Saat Aku tidak memiliki arti...?
Di Saat Aku lemah...?
Di Saat Aku kalah saing dan Aku Harus dipermalukan terhadap sesama ku,,,?
Di Saat Aku Menyerah Akan Arti dan Tujuan Hidup Yang belum tentu aku dapat memahami dengan PASTI...?


Hanya ada beberapa jawabannya
Aku   Adalah Bintang..
Yang dapat menyembunyikan sinar ku di balik awan tebal.
Yang dapat menyinari sebagian Bumi di saat Sang Raja Sinar Berada di sebagian Bumi Lainnya

Aku adalah AKU...
Jangan sama aku dengan kamu.
Jangan sama kan kelemahan ku dengan Kelebihan Yang Kamu Punya.
Karena  Tuhan mengizinkan Aku Untuk menjadi Surat-Surat Yang Indah Nanti Nya.
Dan Jangan memandang lemah suatu Buku apabila Hanya dilihat Cover nya Saja,.
Karena Tidak ada seorang Pun Yang berhak untuk mencibir Aku karena mereka tidak Tahu sepenuhnya,
selain TUHAN dan Keluarga.
Tidak Hanya Bermodalkan Bahasa,,,Tidak bermodalkan Pencitraan dan tidak juga bermodalkan Harta Tetapi ku Bermodalkan SEMANGAT,,NALURI dan NURANI...
Yang sudah ada sejak Aku Terlahir dan dilahirkan di Bumi.


                                                                                                                               Salam Damai
                                               



                                                                                                                             Putra Batak Toba